Universalisme Tata Materi dan Perubahan
January 29th, 2007 by antonekaUniversalisme Tata Materi dan Perubahan
Muhammad Anton Eka Sakti
Hukum kosmik telah menentukan bahwa
setiap unsur mikro pembentuk materi mempunyai karakter yang unik dan beraneka
ragam. Unsur-unsur ini membentuk persenyawaan makro yang kompleks dengan
karakter tertentu. Persenyawaan makro ini pada akhirnya bermuara pada
klasifikasi yang sama sekali berbeda yaitu materi hidup dan materi tak hidup.
Inilah alur yang mengawali universalisme tata materi dan perubahan dunia
kosmik.
Baru-baru ini Departemen Metalurgi
dan Material UI menerima sampel material jembatan yang rubuh di Baturaden dari
pihak kepolisian. Departemen diminta untuk menganalisa penyebab kerusakan
material jembatan tersebut atau sering disebut dengan istilah failure analysis. Dari failure analysis ini akan keluar analisa
penyebab kerusakan material jembatan. Failure
analysis ini sangat terkait dengan analisa yang sangat penting dalam
penelitian tersebut. Analisa ini dikenal dengan nama micro structure analysis.
Dalam studi ilmu material semua
sifat-sifat materi sangat ditentukan oleh struktur mikro pembentuk materi.
Setiap perubahan struktur mikro akan menyebabkan perubahan sifat-sifat materi
seperti kekuatan, keuletan dan ketahanan terhadap beban. Itulah sebabnya kita
bisa menggunakan struktur mikro itu sebagai rekaman yang bisa mengungkap
penyebab dibalik setiap kerusakan materi.
Masih ingat dengan peristiwa
tenggelamnya kapal Titanic di Samudra Atlantik ? Kalau diperhatikan proses
tenggelamnya kapal mewah itu sungguh unik. Titanic tenggelam setelah terbelah
menjadi dua bagian padahal para ahli sudah merancang kapal tersebut dengan
keuletan dan daya tahan yang cukup. Peristiwa ini terjadi karena suhu dingin di
Samudra Atlantik menyebabkan perubahan kelakuan mikro atom-atom pembentuk
materi. Atom-atom materi Titanic sudah tidak lagi bervibrasi dengan
fleksibilitas yang cukup elastis untuk menahan bebannya sendiri.
Seorang ahli ilmu material dari The University of Utah bernama William D
Callister menuliskan bahwa sebenarnya semua aktivitas yang dilakukan manusia
terhadap materi tak hidup melewati diagram material
linear interrelationship. Diagram tersebut menjelaskan adanya jembatan
penghubung antara aktivitas (processing)
dan sifat-sifat (properties) yaitu
struktur mikro. Semua aktivitas manusia terhadap materi tak hidup pada
hakikatnya adalah perlakuan terhadap struktur mikro materi tersebut. Konstruksi
mikro itu menyebabkan sifat-sifat tertentu yang dapat dirasakan manusia.
Fenomena tersebut mengantarkan kita pada konsep micro-invisible factor materi tak hidup. Sebuah konsep dimana suatu
konstruksi mikro yang tak terlihat mata telanjang bisa mendominasi karakter
kebendaan. Konsep ini sebenarnya secara sadar atau tidak telah menyertai
manusia selama umur peradaban manusia itu.
Micro-invisible factor ini tak
hanya terjadi pada materi tak hidup saja tetapi juga terjadi pada materi hidup
seperti manusia. Sebagaimana materi tak hidup, pada manusia micro-invisible factor itu bernama alam
bawah sadar dimana semua perbuatan dan sifat-sifat individu berakar darinya.
Inilah salah satu bentuk universalisme antara manusia dan kebendaan.
Ujung percabangan antara keduanya terletak pada micro-invisible factor ini. Dari sini kita bisa memperoleh sketsa
konstruksi dari perbandingan keduanya.
Pada materi tak hidup rekonstruksi micro-invisible
factor dilakukan dengan memainkan berbagai variabel fisik, kimia dan
termodinamika yang mengubah konstruksi mikro. Sedangkan pada manusia
rekonstruksi ini dilakukan sebagaimana teori yang disampaikan oleh Robert
Wiener yaitu information theory.
Information theory menjelaskan
bahwa rekonstruksi alam bawah sadar manusia mirip seperti yang terjadi pada
komputer. Lambang-lambang dan simbol-simbol informasi dapat dimasukkan secara
terus-menerus ke dalam alam bawah sadar manusia. Suatu saat lambang dan simbol
yang berupa pengalaman dan pengetahuan itu dapat muncul dalam bentuk perbuatan
dan tindakan manusia.
Sistem alam bawah sadar yang sudah terbentuk dapat menggerakkan sistem
syaraf dan otaknya secara otomatis. Hal ini menyebabkan pengendalian individu
untuk melakukan perbuatan fisik sesuai dengan lambang dan simbol dari alam
bawah sadar tersebut.
Materi yang baik dapat tercipta dengan memberikan berbagai perlakuan yang
dapat mengubah struktur mikro yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas
sifat materi. Sebagaimana materi, manusia yang baik dapat tercipta dengan
memberikan simbol dan lambang informasi yang tepat sehingga dapat
mengkonstruksi alam bawah sadar manusia.
Dari konsep ini kita bisa memahami pengaruh lambang dan simbol informasi
terhadap pembentukan karakter bangsa. Ketidakdisiplinan dan segala bentuk
kerendahan kecerdasan emosi yang melekat pada bangsa ini sesungguhnya
ditentukan oleh seberapa baik alam bawah sadar bangsa. Alam bawah sadar ini
ditentukan oleh seberapa baik kita menata puzzle-puzzle simbol dan lambang
informasi ke dalamnya.
Dalam hal ini kecerdasan bangsa sangat
berpengaruh dalam penataan puzzle-puzzle itu. Apakah selama ini bangsa
Indonesia
tidak becus menyusun puzzle-puzzle alam bawah sadar anak-anaknya ?
Penulis adalah
peneliti dari Departemen Metalurgi dan Material Universitas
Indonesia
sekaligus Ketua Umum KSM Eka Prasetya UI.